Keterkaitan Politik Dalam Tatanan Kehidupan dan Cengkraman Skeptisisme Pengalaman Hidup #2

 TIDAK ADA HAL GRATIS DI DUNIA INI!

gambar diatas referensi menggunakan AI


Sering Kali saya mendengar kata kata ini entah melalui podcast seseorang ataupun di media media besar seperti berita atau juga seseorang disekitar saya. jujur saya relate dengan kata kata ini semenjak dibangku perkuliahan namun sebelum itu saya sering kali sewaktu dimasa bangku sekolah saya hanya seolah olah tau tetapi, tidak mengerti kata ini. jadi, kali ini saya akan membahasnya disini.

Awalnya, itu saya berpikir dan membahas flashback ke masa masa sekolah, dan keterkaitan judul diatas, ketika mengenyam di bangku sekolah ada beberapa hal yang aku pikir misal saat sd saya pernah dibuli, dihujat, dijauhi bahkan diasingkan iyapp kadang nanyak tugas ke temen bilang gak ada ehh taunya ada nah bagaimana cara saya saat itu saya membuat salinan walaupun salah dari pada tidak buat. walau kadang temen temen sd saya mau ngasi kadang gak, maklum sih.

Ketika smp tidak ada hal hal di masa sd saya, tapii ada hal bikin kaget dan kecewa saya saat itu saya pernah main game tapi saya belumm sempat main ehh koutanya dihabisin sama temen temen mereka, kadang kalau guru disuruh nyari tugas boleh lewat hp makai internet. teman teman saya selalui makai kouta saya kadang sampai habis saya dapat "as nya doang" terus kadang saya disuruh jadi tempat belanja mereka kan lucu klee di inget" ngapain aku gitu untungnya aku lapor guru clear semua.

Lanjut di masa sma saya disini mulai tenar dan famous walaupun gak ada hal hal yang saya alami seperti di sd dan smp cuma yapp itu bikin jengkel nama saya dimana mana nyebar ada dikelas ini saya dibahas, ekstra ini gitu itu aja sih dan di sma jujur sebenarnya aku gak punya sirkel sekelas kalau diluar kelas atau beda kelas ada tapi bertahan beberapa tahun doang bubar, di kedua kalinya ada walaupun temen ekstra yahh dahlah daripada gak ada ya kan. Nah, masalah muncul kalau gak ada sirkel apalagi pembagian kelompok disuruh milih sendiri behh, kacau dah saya mo ikut sana sini mereka ada dunianya sendiri kan lucu kalau ada orang luar ikut hehehe.

Terus, untungnya saya aktif, cekatan dan serba bisa tipis tipis buka bisa tok!. jadinya saya masih diperhitungkan cobak kalau gak ada kelebihan itu behh gak dianggap dah, pas lomba kelas doang dianggap. saat tamat sma saya memutuskan untung yahhjadi biasa biasa aja sih.

Jadi ketika saya memikirkan dan menarik kesemua simpulan diatas bisa tergolong itu kenapa. karena, sejak sd saya tidak menaruh harapan untuk bercerita dan berteman dan jujur saya walaupun pernah nanyak ini itu kadang suara saya tidak dianggap dari situlah saya belajar untuk berhati hati menceritakan masalah, di smp harusnya saya bisa meminta feedback ini bukan tentang harga tapi realistis. kalau mereka pernah meminjam A saya wajar dong boleh meminjam B kepada teman yang meminjam saya. tapi apa yap feedback saya gak dapat. di sma itu saya belajar untuk sasimo kenapa karena, saya gak punya sirkel makanya saya gitu tapi kalau soal feedback yang gak didapat cuma saat masalah dalam kelompok belajar doang sih.



sebuah cuplikan screenshot dari youtube



Tapi ketika saya melihat artikel yang membahas ini ada yang unik, tentu dari figur baru bernama IBU Sherly Laos Tjoanda beliau merupakan Gubenur maluku utara yang menjadi gubenur di tahun 2024 setelah melakukan pemenangan pilgub malut. tentu saya tidak membahas ini yang saya bahas tentang dia di podcast akbar faisal uncensored dengan judul "skeptisme politik dan acaman cengkraman oligarki".

Dengan akbar faisal dan sherly laos di episode 51. dimulai dari masuk politik untuk keadaan bukan ambisi, diawal nya beliau tidak ingin masuk politik namun, masuk politik dorongan keluarga. dia mengatakan Hidup sering membawa kita ke jalan yang tidak kita pilih.
Dan di titik itu, kita tetap harus ambil keputusan walaupun berat. dan masuk politik itu keras dan banyak tekanan seperti penilaian terhadap pelayanan publik jika dirasa kurang puas, niat yang baik dianggap pencitraan, serta persepsi apapun tetap dinilai oleh publik sekalipun candaan.
 
Ada yang saya suka dari kata kata beliau ketika ditanya loeh akbar faisal ke bu sherly "anda tidak merasa dimanfaatkan oleh partai politik? dia menjawab "dalam hidup ini semua saling memanfaatkan dengan tujuan kita masing masing. benar dan salah semua tergantung perspektif mereka menilai, tujuan saya waktu itu untuk menang." ini yang saya kagum dari jawaban beliau, bukan sekedar kata kata tapi yang diucapkan itu benar.

Saya jadi keinget dengan pengalaman yang dimiliki misalnya, dari sd hingga sma yang saya alami 
sebenarnya semua yang kita lakuin itu berkaitan politik di masa sekolah saya lho, kenapa begini
ketika di masa sd dan smp orang bertindak berdasarkan kepentingan mereka sendiri kalau tidak ada keuntungan, mereka bisa tidak peduli. bahkan relasi itu tidak setara macam di smp ketika saya merasa pihak yang merasa relasi tidak dianggap dan diuntungkan oleh pihak lain. Ini mirip "politik kecil" di kehidupan sekolah. 

Ketika Sma saya tidak punya circle posisi sosial lemah tapi, saat kamu aktif & punya kemampuan  saya mulai diperhitungkan dihargai itu tidak gratis harus ada nilai yang di bawa oleh saya.
Lalu "benar dan salah semua tergantung perspektif mereka menilai" dibahas bahwa publik bisa menilai seseorang berbeda, benar/salah sering tergantung sudut pandang Ini nyambung ke pengalaman saya seperti " dianggap pihak luar" saat tidak punya circle,  mungkin saya merasa benar, tapi belum tentu diterima oleh mereka. hubungan ini penilaian orang ≠ selalu sesuai kenyataan dan posisi sosial mempengaruhi cara orang melihat kita.

dibawah ini saya cantumkan podcast bersama : https://www.youtube.com/watch?v=wXP3-WJ6fnE

Posting Komentar

Lebih baru Lebih lama